Teknik Budidaya Ikan Lele dan Belut

Budidaya Lele
Print Friendly

** Oleh : Hartwin ***

 

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah. Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama dumbo (Afrika), plamond (Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang).

Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan :

1)    dapat diBudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi,

2)    teknologi Budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat,

3)    pemasarannya relatif mudah dan

4)    modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m – 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air Budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi. Namun bila Budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan Budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat. Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya. Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumur  (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yang sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yang baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut :

Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. pH air yang ideal berkisar antara 6-9. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.  Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam Budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.

Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.

Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

Sekarang, budi daya belut bisa dilakukan di dalam tong atau kolam terpal. Murah, efisien, dan praktis. Anda bisa membuatnya di pekarangan rumah, halaman belakang, dan di mana saja asal mendapatkan cahaya matahari yang cukup.Biaya yang dibutuhkan lebih murah dibandingkan membuat kolam konvensional. Untuk asumsi 20 tong saja, hanya mengeluarkan tidak lebih dari 4 juta rupiah. Keuntungannya sekitar 60% dari total penjualan hasil panen. Efisiensinya lebih tinggi. Anda tidak akan kerepotan memberikan perawatan media tanam, pemberian pakan, dan pemanenan. Pasalnya, media tong atau terpal mudah dijangkau laksana menanam pohon di dalam pot. Medianya pun bisa dipindah-pindah sesuai kebutuhan.

Manfaat dari budidaya lele yaitu:

1)    Sebagai bahan makanan

2)    Ikan lele yang dipelihara di sawah dapat bermanfaat untuk memberantas hama padi berupa serangga air, karena merupakan salah satu makanan alami ikan lele.

3)    Ikan lele juga dapat diramu dengan berbagai bahan obat lain untuk mengobati penyakit  asma, menstruasi (datang bulan) tidak teratur, hidung berdarah, kencing darah dan lain-lain.

Manfaat dari budidaya belut yaitu:

  1. Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
  2. Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
  3. Sebagai obat penambah darah

 

Tujuan memilih usaha budidaya lele dan belut yaitu:

Karena konsumsi lele dan belut sangat tinggi. Baik di pasaran lokal maupun luar negeri. Sementara saat ini, belut masih kekurangan pasokan untuk memenuhi kebutuhan akan konsumsi belut. Pangsa pasar ekspor belut di dunia sangat tinggi. Permintaan belut dari negara-negara Uni Eropa hingga kini belum terpenuhi. Oleh sebab itu, prospek bisnis belut sangat menjanjikan. Peternak tidak perlu merasa takut hasil panennya tidak ada yang beli. Jika disalurkan atau bekerja sama dengan mitra yang bisa dipercaya, pemasaran belut bukan lagi masalah.

Budidaya ikan lele, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan lele semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.

 

BUDIDAYA LELE

Budidaya lele dapat dilakukan di kolam tanah, bak permanent maupun bak plastik. Usahakan air dapat mengalir mengalir. Sumber air dapat berasal dari air sungai mapun air sumur. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran sesuai dengan lokasi. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Pelaksanaan Budidaya Lele :

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele sebaiknya ukurannya tidak terlalu luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk dan ukuran kolam pemeliharaan bervariasi, tergantung selera pemilik dan lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen. Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan jernih kolam, bebas dari pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya harus dipertahankan. Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu masih diperbolehkan. Pembuatan kolam terbagi atas 2 cara yaitu:

a. Persiapan kolam tanah (tradisional)

Siapkan kolam tanah. Lakukan pencangkulan tanah dasar kolam dan ratakan. Berikan kapur ke dalam kolam bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2. Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.

b. Persiapan kolam tembok

Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.

 

2. Penebaran Benih

Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih perlakuan penyesuaian suhu dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.

 

3. Pemberian Pakan

Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 2 – 3 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.

4. Pemeliharaan Pembesaran

a. Pemberian Vaksinasi

Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:

  1. Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan, lele yang berumur 2 minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan formalin dengan dosis 200 ppm selama 10- 15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan kebal selama 6 bulan.
  2. Pencegahan penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan dengan menyutik dengan terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.
  3. Pencegahan penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan merendam lele dalam larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit.

b. Pemeliharaan Kolam/Tambak

  1. Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2 untuk memberantas hama dan bibit penyakit.
  2. Air dalam kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan cara mengganti semua air kotor tersebut dengan air bersih yang telah diendapkan 2 malam.
  3. Kolam yang telah terjangkiti penyakit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 200 gram/m 2 selama satu minggu. Tepung kapur (CaO) ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian dibiarkan kering lebih lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak.

5. Pemanenan

A. Penangkapan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:

  1. Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu dapat  dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.
  2. Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4 bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan ditambah 5-6  bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.
  3. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu kepanasan.
  4. Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan seser  halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
  5. Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
  6. Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
  7. Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama 1- 2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
  8. Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.

B. Pembersihan

Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:

  1. Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur sebanyak 20-200 gram/m 2 pada dinding kolam sampai rata.
  2. Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan permanganat kalikus   (PK) dengan cara yang sama.
  3. Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan sinar  matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang ada di kolam.

 

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA LELE

  1. Analisis Usaha Budidaya

Analisis Usaha Pembenihan Ikan Lele Dumbo adalah sebagai berikut:

1. Biaya produksi

  1. Lahan
  • Tanah  12 x 15 m Rp. 18.000.000,-
  • Kolam 4 buah Rp. 5.000.000,-
  1. Bibit/benih
  • benih 3000 ekor @ Rp. 150,- Rp. 450.000,-
  1. Pakan
  • Pakan benih 30 kg @ Rp 5000,. Rp. 150.000,-
  • Pakan induk 100 kg @ Rp 4500,. Rp. 450.000,-
  1. Peralatan
  • Pompa air3 bh @ Rp. 110.000,- Rp. 330.000,-
  • Diesel 1 bh @ Rp. 600.000,- Rp. 600.000,-
  • Sikat 1.bh @.Rp. 25.000,- Rp. 25.000,-
  • Jaring 1 bh @.Rp. 150.000,- Rp. 150.000,-
  • Bak 5 bh @ Rp. 3.000,- Rp. 15.000,-
  • Timba 7 bh @.Rp. 3.000,- Rp. 21.000,-
  • Alat seleksi 6 bh @.Rp. 4.000,- Rp. 24.000,-
  • Ciruk 5 bh @. Rp. 2.000,- Rp. 10.000,-
  • Gayung 5 bh @. Rp.1.000,- Rp. 5.000,-
  • Selang Rp. 90.000,-
  • Paralon Rp. 80.000,-
  1. Tenaga kerja 2 orang @ Rp. 300.000., Rp. 600.000,-
  2. Biaya tak terduga 10% Rp. 1.000.000,-
  3. Transportasi       12 bulan x Rp.200.000., Rp. 2.400.000,-
  4. Pajak Bumi Bangunan 1 tahun Rp. 50.000,-

Total biaya produksi Rp. 29.450.000,-

Penjualan lele per kg @ Rp 15.000

Pendapatan 500 kg x Rp. 15.000 = Rp. 7.500.000

 

BUDIDAYA BELUT

Sebelum pembuatan kolam dimulai, lokasi bakal pembuatan kolam perlu diperhatikan. Survei lokasi sehatusnya dilakukan sebagai langkah awal bagipara investor atau peminat sebelum memutuskan untuk membangun kolam. Namun, kenyataan yang terjadi kini sering tidak denikian. Umumnya orang memiliki tanah terlebih dahulu baru tertarik untuk membangun kolam. Meskipun demikian, tidaklah berlebihan jika dalam diktat ini disinggung langkah –langkah yang idelauntuk membuat kolam.

Luas lahan yang akan dibuat kolam harus diukur terlebih dahulu. Kemiringan lahan juga harus diukur, kemudian menentukan batas kolam yang akan dibuat. Kolam untuk belut, pembuatan kolam meliputi pengamatan letak lahan, pembuatan skema (gambar) konstruksi, pengerjaan pengganlian, serta pemasangan danpembuatan bagian- bagian perlengkapan kolam seperti pintu air, saringan dan lain-lain.

Pelaksanaan Budidaya Belut :

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Jika dalam memilih lokasi sudah ditentukan dimana lokasi kolam yang akan dibuat dan telah memenuhi persyaratan maka pembangunan kolam sudah dapat dimulai. Namun sebelumnya harus ditentukan dulu jenis kolam yang akan dibuat sebab kegiatan budidaya belut yang lengkap memerlukan jenis kolam sesuai dengan kegiatan yang hendak dilakukan. Adapun jenis-jenis kolam yang harusadadi suatu areal budidaya belut adalah kolam penampungan induk, kolam pemijahan dan pendederan, dan kolam pembesaran.

Ukuran kolam untuk semua jenis kegiatan tidak sama besarnya, yaitu :

  1. Kolam penampungan induk,ukurannya 200 cm X 200 cm dengan kedalaman 100 cm
  2. Kolam pemijahan dan pendederan, ukurannya 200 cm X 200 cm dengan  kedalaman100 cm
  3. Kolam pembesaran, ukurannya 500 cm X 500 cm dengan kedalaman 120 cm

 

2. Media Pemeliharaan

Setelah kolam selesai dibuat yang paling utama adalah pemberian media pemeliharaan sebelum kolam tersebut dipergunakan, yaitu media untuk tempat hidup belut berupa tanah sawah atau Lumpur kolam yang sudah dikeringkan, pupuk kandang, pupuk kompos (sekam/gabah padi yang sudah dibusukkan), jerami padi, cincangan pisang, pupuk Urea, dan pupuk NPK, dengan perbandingan sebagai berikut :

–          Lapisan pertama paling bawahjerami padi setinggi 40 cm

–          Diatas jerami ditaburi secara merata pupuk Urea 5 Kg dan NPK 5 Kg (Untuk ukuran kolam 500 cm X 500 cm, apabila kolamnya lebih besar atau lebih kecil ukuran ini, perbandingan pupuk diatasdapat dijadikan patokannya)

–          Lapisan kedua tanah / Lumpur setinggi 5 cm

–          Lapisan ketiga pupuk kandang setinggi 5 cm lapisan keempat pupuk kompos setinggi 5  cm

–          Lapisan keempat tanah / Lumpur setinggi 5 cm

–          Lumpur kelima cincangan batang pisang setinggi 10 cm

–          Lapisan Keenam tanah / Lumpur setinggi 15 cm

–          Lapisan ketujuh air setinggi 10 cm

–          Diatas air ditanami secara merat ecenfg gondok sampai menutupi ¾ permukaan kolam.

Setelah semua media pemeliharaan terisi dalam kolam, diamkan media pemeliharaan tersebut selama 2 (Dua) minggu agar seluruh media mengalami proses permentasi. Dan setelah 2 (Dua) minggu slesai poroses permentasinya maka benih / bibit belut dapat dimasukkan ke kolam pemeliharaan tersebut.

 

3. Penebaran Benih

Pelaksanaan pengembangbiakkan sudah bisa dimulai dengan telah terlengkapinya semua sarana yang dibutuhkan. Untuk tahapan ini yaitu memilih benih. Agar diperoleh belut berkualitas baik dan tidak menghasilkan keturunan abnormal, benih yang dipilih harus memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. Anggota tubuhnya masih utuh dan mulus, yaitu tidak ada luka bekas gigitan,
  2. Gerakan tubuhnya lincah dan agresif.
  3. Penampilannya sehat yang dicirikan dari tubuhnya yang keras, tidak lemas jika pegang
  4. Tubuhnya berukuran kecil dan berwarna kuning kecoklat-coklatan

v

a. Ciri Induk Belut Jantan

– Berukuran panjang lebih dari 40 cm

– Warna permukaan kulit lebih gelap atau abu – abu

– Bemtuk kepala tumpul

– Usianya diatas sepuluh tahun

b. Ciri Induk Belut Betina

– Berukuran panjang antara 20 cm -30 cm

– Warna permukaan kulit lebih cerah atau lebih muda

– Warna hijau muda pada punggung dan warna putih kekuningan pada perutnya

– BEntuk kepala runcing

– Usianya dibawah sembilan bulan

 

4. Perkembangbiakkan Belut

Belut ini mudah berkembang biak dialam, tetapi juga tidak sulit dikembangbiakkan di kolam, asal media dikolam menyerupai habitat aslinya. Secara alami berkembang biak setahun sekali, tapi dengan masa perkawinan yang amat panjang yaitu mulai dari musim penghujan sampai dengan permulaan musim kemarau (Kurang lebih empat sampai lima bulan). Perkawinan belut umumnya tiba akan terlihat belut jantan berbomdong ramai – ramai berenang ke berbagai penjuru kearah tepian. Diperairan yang dangkal itulah nantinya belut jantan menggali lubang perkawinan. Lubang perkawinan diabangun mirip “U”. Selanjutnya dalam lubang tersebut belut jantan lalu membuat gelembung-gelembung udara yang membusa di permukaan air diatas salah satu lubnagnya. Busa – busa tersebut berguna untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Belut jantan menanti kehadiran belut betina di lubang yang tidak diliputi busa.

Setelah belut betina yang dinanti tiba, sebelum perkawinan dilangsungkan akan terjadi cumbu-cumbuan mesra terlebih dahulu. Dalam perkawinan telur-telur dari betina akan dikeluarkan disekitar lubang dibawah busa-busa yang mengapung pada permukaan aor. Telur yang sudah dibuahi selanjutnya akan dicakup belut jantan untuk disemburkan dan diamankan dalam lubang persembunyian.

Kemudian belut jantanlah yang akan menjalani tugas menjaga telur – telur tersebut sampai menetas. Selama menjaga telur ini belut jantan galaknya bukan main. Setiap mahluk yang mendekat ke sarang pasti akan diserang.

 

5. Penetasan

Telur –telur dialam akan menetas setelah 9-10 hari kemudian. Tetspi untuk dikolam pendederan dan pemijahan telur-telur belut akan menetas dalam waktu 12-14 hari. Sewaktu baru menetas warna anak belut kuning setelah itu pelan – pelan berubah menjadi kuning kecoklatan dan selanjutnya menjadi coklat muda. Anak –anak belut yang sudah menetas sementara masih diasuh oleh belut jantan selama dua minggu. Setelah berumur 15 hari anak-anak belut sudah bisa berenag sendiri dan meninggalkan sarana penetasan. Mereka sudah mampu menggali lubnag dan mencari makanan sendiri tempat lain.

 

6. Pemberian Pakan

Belut yang masih kecil memakan zooplankton yang halus seperti antara lain Protozoa (Hewan bersel satu), Mikrokrusasea (Udang-udangan renik), invertebrate mikroskopik (hewan –hewan tak bertulang belakang yang kecil-kecil). Sedangkan belut yang mulai dewasa memakan larva-larva serangga, cacing siput, berudu kodok, dan benih-benih ikan yang masih lemah.

 

7. Pemanenan

Untuk memanen belut, diperlukan ketepatan waktu panen dan cara panen. Wadah penampungan juga perlu disiaokan untuk membawa belut hasil panen di lokasi penjualan. Belut siap dipanen untuk kebutuhan pasar local dari mulai penaburan benih minimal 3 bulan (Sisitem dengan pembesaran), sedangkan untuk kebutuhan pasar ekspor dari mulai penaburan benih minimal 6 bulan (sisitem dengan pembesaran).

 

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA BELUT

  1. Lahan
  • Pembuatan kolam dan media  Rp. 4.500.000,-
  1. Bibit/benih
  • Bibit belut 40 kg x Rp. 20.000/kg  Rp. 800.000,-
  1. Pakan
  • Pakan 50 kg @ Rp. 5000.,  Rp. 250.000

 

Total biaya produksi belut Rp. 5.550.000,-

 

Penjualan belut  per kg @ Rp 50.000

Pendapatan: 200 kg x Rp. 50.000 = Rp. 10.000.000

Jadi, Total Pendapatan:

Lele      : 2 x panen (1 tahun)  = 2 x 750.000       = 15.000.000

Belut     : 3 x panen (1 tahun)  = 3 x 10.000.000 = 30.000.000 +

45.000.000

 

Gaji pegawai:  300.000/orang = 12 bulan x 2 x 300.000    =        7.200.000

Transportasi: 12 bln x 200.000                                   =        2.400.000

Pajak Bumi & Bangunan                                            =             50.000  +                                                                                         9.650.000

Maka, keuntungan bersih dalam 1 tahun = Rp. 45.000.000 – Rp. 9.650.000

= Rp. 35.350.000,-

 

You can leave a response, or trackback from your own site.
Budidaya Lele
Penghargaan Nasional
Foto Bersama
Latihan dan Kunjungan
Rakorhut
Kunjungan Kerja Sekretaris Bakorluh Prov Kalsel

One Response to “Teknik Budidaya Ikan Lele dan Belut”

  1. farizi mengatakan:

    Informasinya sangat jelas dan sangat bermanfaat pak. Terima kasih

Leave a Reply